CO.CC:Free Domain

Sunday, May 10, 2009

Pesantren di Indonesia "Pondok Pesantren"

Pesantren, merupakan lembaga pendidikan keislaman tertua di Indonesia.
Pesantren berdiri secara mandiri, biasanya didirikan oleh seorang kyai yang peduli pada masyarakat sekitarnya. Awalnya hanya beberapa orang santri. Lambat laun santrinya bertambah banyak hingga dibuatlah tempat menginap, pondokan.
Dari detik ke detik, menit ke menit, hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan, hingga tahun demi tahun seorang kyai mengabdikan diri untuk mengajarkan ilmu yang diketahuinya. Tujuannya hanyalah li i’la‘i kalimatillah, mengusung kalimat Tuhan. Di sini kyai mengajarkan ilmu-ilmu keagamaan dan menanamkan semangat wirausaha (entrepreneurship). Dalam mengajar, seorang kyai tidak memungut bayaran, alias gratis. Seorang kyai ikhlas tanpa dibayar, bahkan mendirikan pesantren pun dengan biaya sendiri.
Lazimnya, pesantren khusus mengajarkan ilmu-ilmu dan wawasan keislaman, dengan model khas pesantren, sorogan. Kurun berjalannya pesantren yang juga berkomunikasi dengan zaman, perlahan tapi pasti pesantren mengajarkan ilmu-ilmu umum termasuk penambahan model pendidikannya, sistem kelas.

Biasanya, seorang kyai mendirikan pesantren di tengah-tengah masyarakat. Masyarakat yang dipilih pun adalah masyarakat bawah yang baik secara ekonomi maupun pengetahuan tergolong rendah. Tujuannya tidak lain untuk mendidik sekaligus meningkatkan ekonomi masyarakat.
Karena berada di tengah-tengah masyarakat, seorang kyai pada khususnya dan para ustadz pada umumnya, tidak hanyut dalam hiruk-pikuk wacana maupun gerakan yang bersifat nasional, apalagi global! Mereka terfokus memikirkan masyarakatnya, yang umumnya dalam hal ini lebih fokus pada dunia pendidikan. Wacana dan gerakan nasional, bagi pesantren hanya menjadi titik-pijak pendalaman materi yang diajarkan. Lagi-lagi, muaranya pun pendidikan, tidak pada aksi praksis. Di sinilah yang kemudian mengesankan kalau pesantren itu eksklusif.

Menilik hal demikian: keikhlasan kyai, fokus pada peningkatan taraf hidup masyarakat, terlebih fokus dalam dunia pendidikan; mungkinkah pesantren mengajarkan kekerasan apalagi terorisme? Lalu bagaimana bisa ada satu-dua orang lulusan pesantren yang ikut dalam aksi kekerasan dan pengeboman? Layakkah ada penertiban kurikulum pesantren? Ini harus ditelisik oleh kita semua, khususnya masyarakat pesantren, secara jernih dan arif.
Kemandirian pesantren harus tetap kita jaga. Juga keikhlasannya. Di zaman ini, mencari pendidikan yang murah yang bisa diakses masyarakat bawah, sudah sangat sulit. Kalau kemandirian dan keikhlasan pesantren pupus, apalagi yang bisa diharapkan bangsa ini?

source: wasfal.wordpress.com

No comments:

Post a Comment