CO.CC:Free Domain

Tuesday, April 21, 2009

Sejarah Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan Jawa Timur


Kunjungan Peserta ICIS ke Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan Jawa Timur 27 Februari 2004

Adalah seorang pemuda perantau dari Cirebon Jawa Barat yang pertama kali menginjakkan kaki di tanah Sidogiri, ketika masih berupa hutan belantara, 258 tahun yang silam.

Pemuda itu bernama Sulaiman, putra pertama pasangan Sayyid Abdurrahman bin Umar ba Syaiban dan Syarifah Khadijah binti Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati). Konon, selama 40 hari Mbah Sayyid (nama akrab Sayyid Sulaiman) berperang melawan jin dan para dedemit. Ditemani salah seorang santrinya, Aminulloh, asal pulau Bawean, beliau akhirnya sukses mendirikan sebuah pesantren kecil yang diberi nama Sidogiri.

Ada dua versi tentang tahun sejarah berdirinya Pondok Pesantren Sidogiri. Dalam suatu catatan yang ditulis oleh panca warga (Bani KH. Nawawie bin Nur Hasan) dan ditandatangani oleh al-Maghfurlah KH. Nurhasan Nawawie, KH. Cholil Nawawie dan KA. Sa’doellah Nawawie tertanggal 29 Oktober 1963, disebutkan bahwa Pondok Pesantren Sidogiri mulai berdiri pada tahun 1718. Dengan demikian, saat ini usia Pondok Pesantren Sidogiri telah berusia 285 tahun. Tapi, dalam surat yang lain (1971) yang ditandatangani oleh al-Marhum KA.Sa’doellah Nawawie tertulis, bahwa tahun tersebut merupakan hari ulang tahun PPS yang ke 226, berarti Pondok Pesantren Sidogiri (versi terakhir) berdiri pada tahun 1745. Dan, versi terakhir inilah yang dibuat standart peringatan hari jadi/ulang tahun Pondok Pesantren Sidogiri. Tahun 2003 adalah hari jadi PPS yang ke 258.

Menurut penjelasan dari Syaikhina al-Karim al-Maghfurlah KH. Hasani bin Nawawie bin Noerhasan, bahwa Pondok Pesantren Sidogiri didirikan atas dasar taqwallah seperti halnya masjid di-ta’sis. Allah SWT berfirman ;


“Sesungguhnya masjid itu dibangun atas dasar taqwa”


Dengan landasan dan asas itulah, maka Pondok Pesantren Sidogiri sebagi salah satu ma’had Islam ala ahli sunnah wal jama’ah yang berdiri di muka bumi ini merasa punya tanggung jawab yang besar dalam upaya melestarikan dan mengabadikan ajaran-ajaran Islam di persada bumi, dengan memberikan pendidikan dan pelatihan kepada santri agar kelak menjadi khaira ummah.

Pada tanggal 14 Shafar 1357 H atau 15 April 1938, KH. Abd. Djalil, pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri saat itu, mendirikan madrasah yang diberi nama Madrasah Miftahul Ulum ( MMU ). Setelah KH.Abd Djalil wafat pada tahun 1947, Pondok Pesantren Sidogiri diasuh oleh KH. Kholil Nawawie. Pada saat itulah, dibentuk suatu wadah permusyawaratan yang diberi nama Pancawarga. Anggotanya adalah lima orang putera KH.Nawawie bin Noer Hasan, yaitu; 1) KH.Noer Hasan (wafat 1967), 2) KH.Kholil (wafat 1978), 3) KH.Siradjul-Millah Waddin (wafat 1988), 4) KA.Sa’doellah (wafat 1972) dan 5) KH. Hasani (wafat 2001). Di dalam statement-nya, kelima putera KH. Nawawie ini merasa berkewajiban untuk melestarikan keberadaan Pondok Pesantren Sidogiri dan merasa bertanggung-jawab untuk mempertahankan asas dan ideologi Pondok Pesantren Sidogiri.

Kemudian setelah sebagian besar anggota Pancawarga sudah wafat yakni setelah wafatnya tiga dari anggota Pancawarga, maka KH.Siradjul-Millah Waddin mempunyai gagasan untuk membentuk wadah baru. Maka dibentuklah organisasi pengganti yang diberi nama Majelis Keluarga dengan anggota terdiri dari cucu-cucu laki-laki dari KH.Nawawie bin Noer Hasan.

source: cahaya-islam.com

No comments:

Post a Comment